
남지우
⸢ Feelings are nothing when you encountered something so painful. ⸥
Click one of the pictures to proceed.
Profile Information

| ↶ | ↷ |
|---|---|
| Born Name | Watanabe Inori |
| Kanji Character | 渡辺祈り |
| Korean Name | Nam Jiwoo |
| Hangul | 남지우 |
| Gender | Female |
| Birthplace | Osaka, Japan |
| Date of Birth | September 1st |
| Nationality | Japanese |
| Ethnicity | Japanese |
| Spoken Language | Japanese, English, Korean |
| Occupation | Assistant Editor |
| Side Job | Interpreter |
| Affectional Orientation | ? |
| Sexual Orientation | ? |
| Zodiac Sign | ♍ |
| Chinese Zodiac | 🐕 |
TRIVIA
She prefers to tie her hair in ponytail.Menyukai berbagai macam kue pastri, terlebih chocolate muffin dan cupcake. Selain itu, ia juga menyukai roti secara umum.Parfum favoritnya ialah yang beraroma buah-buahan.Hanya bisa memasak masakan yang menurutnya kelewat sederhana, pun dirinya sebenarnya tidak bisa terlalu lama berdekatan dengan kompor. Takut meleleh, katanya.Punya keinginan untuk belajar membuat kue, yang sayangnya belum bisa terealisasikan.Mengidap klaustrofobia, ialah ketakutan berlebih pada ruangan sempit. Tubuhnya akan memproduksi keringat dingin dalam jumlah massal dan berbagai komponen dalam otaknya akan berputar tanpa henti, menyebabkan kepanikan menggerogoti serta menimbulkan keinginan untuk menjerit. Intinya, ia tidak bisa berada dalam ruang sempit dalam waktu yang lama.Amat menghindari elevator. Pun di tempat kerjanya, ia lebih memilih berjalan menggunakan tangga walau ruang kerjanya berada di lantai lima.Sewaktu kecil, dirinya pernah terjebak di dalam lift kantor kerja ayahnya selama berjam-jam tanpa sanggup berteriak sehingga tak ada yang menyadari bahwa di dalam lift yang tak bekerja terdapat seorang gadis muda yang menangis ketakutan.Tidak percaya kisah mistis walau ia akan tetap menjerit jika dihadapkan dengan gambar sosok yang bersangkutan.Punya kecenderungan untuk berpikir negatif terhadap laki-laki.Punya keinginan kuat untuk melindungi teman-teman wanitanya, terlebih dari tingkah laku makhluk ber-title laki-laki.Teman-temannya kerap kali bercanda memanggilnya dengan sebutan oppa.
Physical Traits
Handedness
Right-handed
Birthmark
Right knee
Tattoos
-
Piercing
Earlobe
Blood Type
A
Rhesus
Positive
Height
165 cm
Weight
48 kg
Body Type
Slim
Skin Tone
Light
Undertone
Warm
Facial Shape
Oval
Eyes Color
Light-brown
Skin Type
Oily
Hair Color
Blonde; originally black
Hair Type
Long Straight
Lebih senang dengan tampilan kasual dimana ia mengenakan jeans dan outer semacam coat ataupun cardigan. Untungnya, tempat kerjanya fleksibel sehingga tak menyulitkan ia untuk berpakaian nyaman kapanpun ia mau.
History
ㅤㅤ Alkisah, Inori lahir ke dunia dengan berasal dari keluarga yang berkecukupan segala-galanya. Ia tumbuh dan berkembang dalam dekapan orang tua yang mampu memenuhi kebutuhan serta keinginannya. Ayahnya ialah seorang pekerja kantoran, yang pangkatnya sudah mendekati pemilik perusahaan itu sendiri. Sementara ibunya yang adalah orang Korea, menghabiskan waktu untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik. Seperti kisah klise lainnya, sayangnya hal itu membuat kedua manusia dewasa itu pun berekspektasi lebih kepada sang gadis.
ㅤ Sedari kecil, dirinya ditempa dengan berbagai macam les yang menyibukkan waktu. Pun jalur homeschool-ing ialah yang ibunya anggap terbaik untuk sang anak. Namun justru karena itulah, ia kekurangan sesuatu. Teman. Sosialisasi yang baik dengan manusia lain. Hingga ketika dirinya hendak duduk di bangku SMA, ia menyatakan keberatannya dan meminta untuk pergi ke sekolah biasa dimana ia bisa bertatap wajah dengan orang lain.
ㅤ Orang tuanya menyanggupi, dengan syarat ia harus tetap mempertahankan prestasinya yang tidak seberapa. Pergilah ia ke sekolah negeri. Meski gugup menghinggapi, she manages to pull some string as in getting a few friend. Teman-teman barunya nampak penasaran dengan ia yang baru ‘keluar dari cangkang’, pun mereka nyaman-nyaman saja dengan kemampuan sosialisasinya yang buruk.
ㅤ Hari-hari berlalu, Inori sudah mulai terbiasa. Dimana ia kini mengikuti kegiatan ekstrakulikuler dan mencoba peruntungan untuk masuk ke struktur dewan siswa. Di sanalah ia bertemu dengan seorang senior yang dielu-elukan banyak siswi. Tak tanggung-tanggung, sudah tampan, atletis pula, nilai akademiknya juga teramat baik. Dia ini manusia apa bukan?! Batin Inori menjerit bersamaan dengan wajahnya yang tertunduk malu ketika lelaki itu lewat di hadapannya saat mereka sedang berbaris untuk mendapatkan pengumuman perihal apa-apa saja yang mesti dipersiapkan untuk menjadi anggota dewan siswa. Beberapa detik berikutnya takkan pernah terlupa olehnya, dimana sepatu si ketua berhenti di dekat sepatu miliknya. Terlihat jelas bahwa kini mereka berhadapan, pun sekon setelahnya dagunya sudah diangkat oleh tangan lelaki tersebut.
ㅤ❝It will be such a waste to have your beautiful face downwards like that.❞
ㅤ Satu kalimat tanpa jeda, dan manusia-manusia di sekitarnya sibuk bersorak sorai bak kesurupan. Sementara itu si ketua sudah melepaskan dan berjalan kembali ke depan, memerintahkan yang lain untuk menghentikan ribut yang baru saja ditimbulkannya. Meninggalkan Inori dengan wajah semerah tomat yang kembali ditundukkannya.
ㅤ Sedari hari tersebut, setelah mereka resmi menjadi anggota dewan siswa, rumor menyebar luas. Perihal Akito dan Inori yang kabarnya sedang panas-panasnya. Si gadis jelas membantah, tapi lelaki itu dengan santai tersenyum penuh arti. Membuatnya tak mengerti intensi di balik tenangnya itu. Pun kebingungannya itu terjawab dua minggu setelah pesan teks intens, dimana Akito menyatakan perasaannya dan memintanya menjadi kekasihnya. Tak ayal, hal itu membuatnya bahagia bukan main, mengiyakan untuk meresmikan hubungan. Tak benar tahu niat busuk di balik tawa manis lelaki-nya.

ㅤ Singkat cerita, semua baik-baik saja di tiga bulan pertama. Hanya beberapa kali miskomunikasi tak berarti, yang berujung berbaikan sebab Inori amat pengertian―atau terlalu bodoh, you choose. Bak dimabuk cinta, ia tak memerhatikan kejanggalan pada setiap tingkah laku Akito, pun beberapa orang di sekitarnya. Bahkan tidak dengan surat teror yang didapatnya di loker sepatu. Tidak sampai ia tak sengaja mencuri dengar pembicaraan sang ketua dewan siswa dengan wakilnya, perihal taruhan akan dirinya. Bagaimana Akito dengan percaya dirinya berkata akan bisa menidurinya secara cuma-cuma. Bagaimana ia dengan begitu polosnya mau menerima Akito menjadi kekasihnya dan seakan mau memberikan seluruh dunia untuk Akito. Sedari sanalah, ia sadar. Ia sangat bodoh.
ㅤ Tidak, Inori tidak langsung memutuskan hubungan mereka. Sebaliknya, ia membiarkan hubungan tersebut berlarut-larut tanpa kejelasan. Dimana ia yang selalu menolak untuk bertemu dan sebagainya. Pun di hari dimana mereka semua melepas jabatan untuk periodenya, Inori mengajak Akito bicara empat mata. Tak ada kata lain, hanya pemutusan sepihak melalui tutur dingin yang terucap dari bilah bibir si gadis Watanabe. Potongan kisah tersebut penuh drama, sebab lelaki brengsek itu tak terima dan terus mengejar Inori, mencoba mendapatkan hatinya kembali. Yang tentunya ia tolak mentah-mentah bahkan hingga keparat itu lulus dari sekolah mereka.
ㅤ Semenjak saat itu, ia tak lagi percaya dengan hubungan yang katanya dilandaskan atas dasar cinta antara laki-laki dan perempuan. Ia menghabiskan lebih banyak waktu bersama teman-teman gadisnya, dan juga untuk belajar. Si tolol rupanya tak lelah memintanya kembali, mengatakan bahwa ia mengakui kebodohannya akan taruhan dan menyesali perbuatannya tersebut. Dilanjutkan dengan bualan bahwa ia baru menyadari arti hadirnya dan blablablabla. Inori muak dengan semua itu.
ㅤHingga ketika dirinya mampu lulus dari sekolah, ia langsung meminta untuk pergi sejauh-jauhnya. Pergi keluar negeri agar manusia itu tak lagi nekat mencoba menemuinya. Orang tuanya tak setuju, pada awalnya. Walau kemudian mereka mengizinkan, dengan syarat ia harus tinggal bersama keluarga dari ibunya di Korea Selatan sana. Tanpa banyak pikir, ia menerima begitu saja. Menggunakan nama Koreanya, Nam Jiwoo, ia melanjutkan pendidikannya di negeri ginseng dan lulus dengan hasil yang cukup memuaskan. Selanjutnya, Jiwoo tak langsung pulang ke kampung halaman. Ia hanya tak merasa ingin. Pun ia sudah teramat nyaman berada di sini, di tempat ia menemukan teman-teman yang tak ingin tahu latar belakangnya dan murni berteman dengan dirinya.
ㅤDi antara semua teman gadisnya, ia paling dekat dengan Nari. Seorang gadis mungil yang paling setia mendengarkan ocehannya tentang berbagai hal tidak penting. Di suatu hari, gadis itu datang kepadanya dengan pipi memerah nan basah. Diceritakanlah bahwa kekasih Nari baru saja memukulnya dan pergi. Dengan berapi-api tanda tak terima, Jiwoo meminta kawannya itu memutuskan hubungan. Mengatakan berbagai saran yang kemudian diterima oleh Nari.
ㅤTak perlu ditanya, semenjak saat itu ia menjadi semakin protektif terhadap kawannya yang lebih mungil itu. Menemaninya kapanpun diminta, pun punya ingin untuk melindunginya dari marabahaya di dunia. Menjadikan pandangan orang-orang terhadapnya dipenuhi tanda tanya. Pasalnya, tiap kali seorang pria menyatakan perasaan, ia dengan mudah menolaknya mentah-mentah. Dan kini mereka melihat seorang Nam Jiwoo dengan seorang gadis, begitu sayang. Bisik-bisik tentangnya dimulai, yang tak begitu digubrisnya walau beberapa dari mereka dengan berani bertanya langsung kepadanya. Biarlah, toh ia tidak rugi.
ㅤDengan jerih payah serta konsistensinya dalam melakukan sesuatu, kini ia bekerja sebagai asisten dari seorang editor majalah percetakan yang juga memiliki koneksi dengan sebuah stasiun TV. Anggapnya, ia telah memulai hidup baru dengan gambaran baru hidupnya begitu menginjakkan kaki di negeri ini. Pun apa yang dikata orang, sungguh, ia tidak peduli.
Personality
| ↶ | ↷ |
|---|---|
| MBTI | INFJ-T |
| Four Temprament | Phlegmatic |
| Enneagram | Type 6, Type 2, Type 9 |
| Dere Type | Tsundere |
ㅤ Pemikir realis yang cenderung melihat segalanya melalui berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi. Sangsi akan adanya akhir bahagia di dunia ini. Paling dihindari oleh sahabat-sahabatnya yang sedang jatuh cinta sebab dirinya takkan segan mengungkapkan komentar skeptis akan berbagai hal. Meski begitu, ia merupakan pribadi yang cukup kaku pada perubahan dan memerlukan sedikitnya waktu untuk beradaptasi. Cukup sensitif dan peka, pun simpatis yang mood-nya berubah tanpa bisa ia kendalikan dengan baik. A type of person who makes plan ahead instead of improvising. An ambivert who needs some time alone by herself and socializing as usual after.
Family & Relations
Updated soon
Writer's Notes
Updated soon











